Beda Gaya Wisatawan Indonesia Dengan Bule Saat Berkunjung ke Candi Borobudur

Libur Natal, Travelingyuk isi dengan mengunjungi loka-tempat yg paling hits pada Magelang & keliru satunya tentu saja Candi Borobudur. Meski telah berulang kali berkunjung ke sana tetapi candi Buddha terbesar pada dunia ini nir pernah kehilangan pesonanya buat mengundang traveler mengunjunginya lagi & lagi. Kunjungan kali ini memberikan sedikit cerita lucu mengenai beda cara bule dan wisatawan Indonesia pada menikmati candi.

Candi Borobudur mempunyai pamor yang sudah terkenal diseluruh dunia sebagai obyek wisata. Candi ini juga sudah masuk dalam tujuh keajaiban global. Tak pelak jika setiap hari poly pengunjung yg datang ke obyek wisata ini seakan tidak mengenal ketika. Namun jumlah kunjungan akan mencapai nomor yg mencengangkan pada saat-ketika eksklusif utamanya di hari libur panjang misalnya kini ini.

Wisatawan foto-foto dengan latar belakang candi Borobudur, Foto by Argi/Travelingyuk
Wisatawan foto-foto dengan latar belakang candi Borobudur, Foto by Argi/Travelingyuk

Libur Natal yg bergandengan dengan Maulid Nabi Muhammad & jua akhir pekan membuat libur kali ini sebagai sangat lama & telah bisa ditebak bila secara umum dikuasai orang Indonesia akan pergi piknik ke loka-loka mainstream termasuk candi Borobudur. Otomastis jumlah kunjungan meledak yg ditandai menggunakan kurangnya huma parkir, membludaknya antrian pada depan loket pembelian tiket sampai jalanan yg dipenuhi ribuan insan.

Namun ada beberapa hal unik yg Travelingyuk dapatkan selama mengamati tingkah laris pengunjung di candi Borobudur. Ada disparitas yang mendasar antara bule & wisatawan domestik saat berkunjung ke candi Borobudur. Sejak keluar dari pos inspeksi & masuk ke tempat pada candi, traveler lokal eksklusif mengeluarkan senjata tongkat narsis alias tongsis lengkap menggunakan gadget buat foto.

Pengunjung candi Borobudur, Foto by Argi/Travelingyuk
Pengunjung candi Borobudur, Foto by Argi/Travelingyuk

Jika diibaratkan secara ekstrim, hampir setiap satu langkah bule-bule lokal ini akan merogoh gambar atau berfoto selfie. Sedangkan bule asli cuek saja & menentukan buat terus jalan menuju ke bangunan candi Borobudur. Sesampainya pada bangunan utama candi, perbedaan lebih kontras diperlihatkan oleh dua jenis pengunjung. Kamu mampu membedakan dengan sempurna tanpa melihat berdasarkan dekat mana bule mana orang Indonesia .

Cara membedakannya praktis, lihat pada tangga masuk ke bangunan utama candi yg sebagai akses wisatawan menuju ke zenit stupa. Orang Indonesia akan menumpuk di tangga sempit tersebut buat berebut ke puncak candi. Beda sama bule, mereka tidak tergesa-gesa untuk hingga di puncak . Umumnya bule didampingi oleh pemandu, mereka akan berkeliling setiap taraf dan menyelidiki relief pada dinding candi yg ternyata mempunyai cerita yg runtut.

Antrian wisatawan yang ingin naik ke candi Borobudur, Foto by Argi/Travelingyuk
Antrian wisatawan yg turun menurut atas candi Borobudur, Foto by Argi/Travelingyuk

Lantas apa yg dilakukan traveler Indonesia saat bule-bule mempelajari candi Borobudur lewat relief yg terukir pada dinding batu pada sekeliling candi? Yup telah sanggup pada tebak, mereka mencari angle terbaik buat foto selfie atau foto beserta dengan anggota keluarga. Sepanjang pengamatan Travelingyuk, minim sekali traveler lokal yang terlihat berkeliling candi. Lantas haruskah kita marah apabila orang asing lebih mengenal sejarah negeri kita dibandingkan kita sendiri?

Related Posts

Subscribe Our Newsletter