Kisah Pohon Pengantin di Salatiga yang Tumbuh Sebatang Kara

Traveler yang pernah menjelajahi alam Salatiga tentu nir asing dengan loka ini. Dikenal menggunakan Pohon Pengantin, pohon tunggal pada tengah pematang sawah yang menjadi objek buruan fotografi & menikmati suasana senja bagi anak-anak muda. Nama yang aneh mengingat pohon ini tidak memiliki pasangan akan tetapi diberi nama Pohon Pengantin. Ternyata inilah kisah yg melatar belakanginya.

Bagi sebagian traveler destinasi pohon cinta sebagai jujugan buat pergi berlibur bareng pasangan. Konon pohon-pohon yg dijuluki pohon cinta itu dapat membuat hubungan asmara sebagai langgeng. Umumnya pohon ini jumlahnya sepasang & dianggap pula menggunakan Pohon Pengantin. Tapi Pohon Pengantin di Salatiga ini tidak selaras dari lainnya.

instagram

Kota Salatiga memiliki loka keren bernama Pohon Pengantin. Alih-alih berupa sepasang pohon yang saling berdampingan layaknya pengantin, pohon ini malah tumbuh sebatang kara pada tengah pematang sawah jauh berdasarkan pohon-pohon lainnya. Pohon Pengantin ini sanggup traveler jumpai pada desa Bancaan, Jalan Raya Solo-Semarang Km. Dua.

instagram

Menurut beberapa asal yang ditelusuri Travelingyuk, konon pada loka tersebut dulu ada sepasang pohon yang merupakan jelmaan berdasarkan sepasang pengantin. Tapi nir dijelaskan secara rinci kemana pohon satunya, yang pasti sekarang hanya ada satu pohon yg kokoh berdiri pada pinggir sawah ditengah-tengah pematang.

Pohonnya sangat unik dengan batang yg meliuk-liuk misalnya flora bonsai. Tempat ini sangat ramai dikunjungi anak muda mulai sore sampai menjelang malam. Rata-rata mereka yang datang terpikat menggunakan suasana senja yg menghadirkan golden sunrise menggunakan latar area persawahan hijau. Menurut penuturan warga setempat bahkan ada jua pasangan kekasih yang melangsungkan sesi foto pra nikah di sana.

instagram

Jadi untuk traveler yg menginginkan tempat indah buat foto tiba saja ke Pohon Pengantin pada Salatiga ini. Keuntungan yg sanggup didapat merupakan mendapatkan hasil foto yang oke tanpa keluar kapital banyak. Yap, lantaran loka ini bukan obyek wisata komersil jadi nir perlu bayar untuk tiba ke sana. Paling-paling cuma masyarakat desa yang akan menarik biaya parkir.

Related Posts

Subscribe Our Newsletter