Pantai Selong Belanak Lombok dan Mitos Kutukan Kematian di Pulau Gunung Wayang

Nama Pantai Selong Belanak sudah tidak asing lagi pada jajaran destinasi wisata pada Pulau Lombok. Pantai ini merupakan satu berdasarkan sekian poly pantai di daerah wisata Mandalika, sekaligus menjadi yg paling terkenal. Dengan garis pantai yang membentang sepanjang 1 km menaruh ruang yg luas buat wisatawan bermain pasir maupun air. Tapi tahukah engkau apabila salah satu bagian pantai ini memiliki mitos kutukan yg mengerikan?

Kalau kamu sedang berada di Pantai Selong Belanak terlihat sebuah pulau kecil berbentuk segitiga pada hadapanmu. Pulau ini oleh masyarakat setempat diberi nama Pulau Gunung Wayang yg merujuk pada bentuknya yang misalnya gunung berbentuk segitiga persis seperti gunungan yang terdapat di pementasan wayang kulit.

Instagram

Keberadaan gunung ini selain mempercantik lanskap pantai Selong Belanak pula menyimpan misteri. Pulau Gunung Wayang yg terlihat dari pesisir pantai sangat disakralkan sang Suku Sasak yg adalah penduduk orisinil di tempat tersebut. Orang atau wisatawan dilarang seenaknya mengunjungi pulau ini tanpa meminta biar pemangku istiadat terlebih dahulu.

Instagram

Ganjaran bagi mereka yg nekad tiba ke Pulau Gunung Wayang merupakan kematian. Bukan lantaran hukuman tewas tapi lebih pada mitos kutukan yg mengerikan. Jadi siapa saja yang tiba ke sana tanpa izin syahdan akan menerima kutukan kematian. Warga setempat turut mengamini mitos ini menggunakan menyampaikan bahwa pernah ada bule yg nekad ke sana & akhirnya mendapatkan nasib nahas hingga akhirnya mati.

Satu-satunya cara mendatangi Pulau Gunung Wayang dengan kondusif merupakan dengan minta izin pada pemangku istiadat Suku Sasak yg bernama Amaq Salmah. Ia akan menciptakan semacam ritual khusus terlebih dahulu sebagai upaya memintakan izin pada penunggu pulau sebelum akhirnya mengantar wisatawan menuju ke pulau.

Instagram

Terlepas dari benar tidaknya mitos kutukan ini yg pasti menggunakan adanya mitos seperti itu akan menambah daya tarik wisatawan buat berkunjung ke sana. Bisa jadi ini adalah salah satu bentuk kearifan lokal tentang konservasi alam agar tempat tersebut nir tereksploitasi hiperbola sehingga kelestariannya permanen terjaga. Kita menjadi wisatawan harus hukumnya buat menghormati dan selalu berlaku sopan terhadap kearifan lokal pada setiap destinasi wisata. Dengan begitu hal-hal yang nir diperlukan akan menjauh berdasarkan kita.

Related Posts

Subscribe Our Newsletter